with Yuliana Firman

Selasa, 07 Agustus 2018

Oasis


“Mungkin tujuan kita dipertemukan di semesta ini untuk melengkapi teka-teki kehidupan. Tapi, bahkan sebelum mampu kupecahkan, mengenalmu membuatku banyak bersyukur”

Bulan Mei lalu pernah menulis artikel tentang pemerataan pendidikan (yang judulnya Dorman). Ternyata terlalu jauh saya melihat , sementara di daerah sendiri masih ada kondisi yang lebih memprihatinkan.

Umur mereka berkisar antara 6-12 tahun. Tempat mereka berkeliaran bukan di taman kota, pusat perbelanjaan,tempat PS, warnet, apalagi instagram. Kelincahannya berlari dan tertawa tidak pernah tertangkap kamera, hanya direkam oleh hijaunya dedaunan. Cara mereka mengekspresikan diri bahkan terkesan seperti orang tua. Bukan! Bukan pemikiran mereka yang terlalu cepat dewasa, hanya karena kurangnya fasilitas hingga tak satupun kosa kata kekinian yang mereka pahami. Bahasa sehari-hari dan bahasa mereka di kelas bahkan kental dengan bahasa daerah bugis dengan logat setempat. Tidak perlu menghakimi mereka yang tidak menggunakan bahasa persatuan karena mereka anak-anak yang melestarikan budaya tanpa harus kita kambinghitamkan globalisasi.

Mereka melihat terang hanya sampai sore hari, sementara malam harinya mereka harus puas dengan remang-remang. Tidak ada listrik disana, daerah yang letak teritorialnya berada jauh dari pusat pemerintahan. Mewujudkan pembangunan di daerah terpencil memang memakan waktu dan proses yang lama dan berbelit-belit. Kejadian ini biasanya disebabkan oleh medan-medan yang cukup sulit untuk dijangkau, karena alasan transportasi, komunikasi dan masalah-masalah klasik lainnya. Dengan begitu tidak jarang daerah-daerah terpencil tidak terjamah bantuan dan ujung-ujungnya terabaikan oleh pemerintah.

Rasanya muak, bukan? Ketika sudah disangkutpautkan dengan pemerintah? Mungkin itu pula yang dirasakan seorang berhati mulia yang dengan besar hati mendirikan sebuah bangunan tempat mereka belajar mengeja huruf-huruf, menjumlah dan mengurangkan angka-angka dari pagi buta hingga siang hari. Sebuah pengabdian bagi generasi penerus bangsa.

Bangunan dari papan kayu tempat anak-anak belajar itu menimbulkan afeksi. Ketika berada disana, waktu rasanya cepat sekali berlalu, beruntung tak ada bunyi lonceng yang menuntut untuk menyudahi aktivitas di kelas yang bahkan beralaskan tanah itu. Meski harus belajar dengan bilingual (Bahasa Indonesia diterjemahkan ke bahasa bugis), antusiasme mereka tidak mengendur sedikitpun.

Pernah saya mengeluhkan perpustakaan di sekolah yang ada di perkotaan, kurangnya referensi buku dan rak-rak yang masih kosong dan diisi dengan buku yang berdebu. Saat berada di daerah itu, rasa syukur memenuhi dada. Disana bahkan tidak ada rak untuk buku apalagi perpustakaan. Tidak ada fasilitas yang cukup memadai untuk menunjang kemajuan proses belajar mengajar yang mereka lakukan. Gubug yang mereka sebut sebagai gedung sekolah tidak mampu memberikan fasilitas yang memadai sebagaimana sekolah-sekolah normal pada umumnya.

Antusiasme juga terlihat di wajah mereka ketika melakukan latihan upacara untuk pertama kalinya. Tidak ada keluhan, tidak ada rengekan ingin segera pulang ke rumah. Bahkan ketika lagu Indonesia Raya mereka nyanyikan dengan hafalan lirik seadanya. “Indonesia Raya Merdeka Merdeka, Hiduplah Indonesia Raya”. Suara mereka menggema, memberikan semangat kepada merah putih yang untuk pertama kalinya dikibarkan disana.

Hingga hari terakhir berada disana, semangat mereka tidak sedikitpun meluntur. Tidak satupun dari mereka yang membolos bahkan di hari minggu, hari mereka seharusnya menikmati libur. Tangisan mereka ketika perpisahan adalah motivasi pertama yang menjadikan seorang manusia benar-benar ingin menjadi guru. Karena mereka punya cita-cita, maka Aku harus menjadi guru.

Kisah mereka untuk menuntut ilmu adalah satu dari sekian banyak perjuangan anak negeri yang patut diperhatikan oleh berbagai pihak. Mereka adalah oasis di negeri yang kalut.

“Dari mereka, yang baru mengenal negaranya tapi entah kapan dikenal negaranya. Di sudut negeri yang tidak tersentuh listrik apalagi tiktok. Dibandingkan berbagi, sungguh dari mereka kami banyak belajar”

1-5 Agustus 2018
Dusun Dunru, Desa Pationgi, Kecamatan Pattimpeng, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Indonesia.

Sementara itu, di sudut negeri yang lain, duka juga tengah menyelimuti saudara-saudara kita. Mereka juga butuh oasis. Bahkan sesederhana sebuah doa. Lombok, semoga lekas membaik.

Read More

Senin, 21 Mei 2018

Dopamin


Aku akan terus bermain dan tugasmu tetap jadi tempat pulang paling serius. Memang tak pernah adil, sayang. Bukankah katamu kau ingin berkorban?-

Postingan kali ini adem, tentram. nda bahas politik atau pendidikan, apalagi perang. Selamat membaca!

http://bahasa.aquila-style.com
Siapa orang terakhir yang kamu beri ucapan terimakasih? Hal berharga apa yang sudah ia lakukan atau berikan sampai dia pantas dapat sebuah terimakasih? Sadar tidak, dengan memberinya ucapan terimakasih, secara tidak langsung kamu berhasil mengundang endorfin, serotonin, dopamin, dan oksitosin dalam diri orang tersebut. Kesemua hormon itu muncul ketika seseorang merasakan kebahagiaan. Wah, Terimakasih untuk kamu yang sudah membuat seseorang merasa bahagia. Meski sesederhana ucapan terimakasih, tapi pemberian kamu itu ternyata bisa dihargai sedemikian berharganya oleh para hormon.

But did you know? Memberi memberikan dampak psikologis yang lebih positif dan mendekatkan seseorang kepada kebahagiaan yang sebenarnya daripada menerima. Seorang psikolog sosial bernama Erich Fromm, dalam bukunya yang berjudul To Have or To Be (1976) membedakan dua tipikal umum manusia, yakni kelompok being dan having. Orang-orang dalam kelompok having adalah mereka yang mengaitkan identitas dan jati dirinya berdasarkan apa yang mereka miliki. Jadi, kesenangan mereka digantungkan pada atribut yang mereka punya, termasuk yang mereka dapatkan. Sementara itu, orang-orang dalam kelompok being ialah mereka yang memiliki identitasnya tidak ditentukan oleh atribut yang melekat pada dirinya. Jadi, kebahagiaan mereka murni ditentukan oleh apa yang mereka dapat lakukan, bukan apa yang mereka dapatkan. 
Karakter yang produktif, tentu, adalah orang-orang being, yang kebahagiaannya sejati karena tidak bergantung pada kondisi lingkungan.

Bagaimana jika being dan having ini digabungkan? Bisa nda? Bisa, tentu saja. Lakukan hal itu pada diri sendiri. Jadi pemberi dan penerima sekaligus. Give the reward for yourself! Orang biasanya menyebutnya dengan self-reward. Dirimu berharga, itu alasan kenapa sesekali kamu perlu memberi hadiah atau penghargaan kepada dirimu sendiri. Karena memberi sesuatu kepada orang lain adalah hal yang sudah seringkali kamu lakukan (if you’re not stingy enough hahaha).

Rutinitasmu sehari-hari mungkin saja menuntutmu untuk melakukan hal-hal yang cukup berat, untuk sebuah tujuan yang ingin kamu capai. Entah kamu yang sedang bekerja keras, belajar keras, atau mungkin berjuang untuk suatu hal yang kamu cita-citakan. Memberi penghargaan kepada diri kamu sendiri bukan hal yang egois kok. Apalagi, ketika kamu berhasil mencapai tujuan yang kamu inginkan. Anggap itu sebagai reward yang pantas kamu dapatkan. Menurut Abraham Maslow, hadiah merupakan salah satu komponen dalam kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan akan penghargaan. Jadi, ketika memberi reward pada dirimu sendiri, secara tidak langsung kamu sudah memenuhi salah satu kebutuhan dasarmu. Bentuk reward ini sesuaikan dengan apa yang benar-benar kamu inginkan, bagi kamu yang senang makan, beli makanan yang kamu inginkan, bagi kamu yang senang jalan-jalan, manjakan dirimu dengan bepergian kemana saja. Bagi kamu yang senang tidur, get your best sleep! Pokoknya, Beri reward yang setimpal untuk dirimu sendiri.

Memberikan apresiasi pada usahamu juga dapat menjadi motivasi agar apa yang kamu kerjakan bisa lebih baik lagi kedepannya. cuma diri kita sendiri yang paham seberapa besar usaha yang sudah kita lakukan untuk mencapai suatu hal, sehingga cuma diri kita sendiri yang sanggup memberi apresiasi yang setimpal untuk diri sendiri.

Teruntuk kamu, yang sudah melakukan yang terbaik selama ini, entah untuk orang yang kamu kasihi, orang disekitarmu atau bahkan untuk orang banyak di luar sana, Terimakasih. Sikap altruisme yang kamu tunjukkan sudah menjadikan bumi ini terasa lebih hangat.

Kamu berharga, dan hanya kamu yang paham betapa berharganya dirimu!

Read More

Senin, 14 Mei 2018

Dorman



Aku tak pandai menafsirkan seulas senyuman, tapi ada makna yang kudapat selepas pudarnya ia, bahwa memberi dan kehilangan adalah dua hal yang berbeda-

Ada yang pernah baca Supernova seri Partikel? Kisah Zarah yang tidak menempuh pendidikan formal namun dibimbing langsung oleh Firas, ayahnya tapi memiliki pengetahuan yang bahkan mengalahkan orang dewasa di usianya yang seumuran anak SD. Di umurnya yang masih sangat bocah itu, Zarah bahkan paham struktur otak dan fungsinya yang baru dipelajari di tingkat sekolah menengah. Metode belajar yang diterapkan Firas ini cukup unik dan beliau nda mau menyekolahkan Zarah di sekolah formal. Tapi, back to reality. Memangnya ada berapa banyak Firas Firas lain di negeri ini? Makanya Indonesia masih menjadi negara yang menjalankan sistem persekolahan dan mari kita dukung. (iya, kita)

Postingan kali ini akan sedikit serius dan cukup panjang. Sebuah tulisan sejenis esai yang sudah coba author kirim untuk pihak yang bersentuhan langsung dengan topik. Tapi tidak ada salahnya dibaca oleh masyarakat luas.

Kenapa judulnya Dorman? menurut KBBI, dorman berkenaan dng terhambatnya pertumbuhan (perkembangan) untuk sementara waktu meskipun keadaan lingkungannya sebenarnya bersifat menunjang (air dan cahaya cukup serta suhu naik). Hal ini biasanya terjadi pada tumbuhan dan saya nda mau kondisi semacam dorman ini menimpa anak-anak di Indonesia.
Selamat membaca!

gagaspertanian.com

Masalah Pemerataan Pendidikan di wilayah Indonesia sudah bukan wacana baru di masyarakat. Permasalahan tersebut sudah menjadi penyakit yang meski sudah berusaha diobati, tetapi belum dapat disembuhkan secara maksimal. Wilayah yang paling sering disoroti mengenai belum meratanya pendidikan adalah wilayah Indonesia Timur. Padahal, wilayah tersebut termasuk penghasil sumber daya alam yang melimpah. Namun, akan percuma jika tidak diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia. Berbagai upaya pembenahan sistem pendidikan masih bersifat umum, yang seringkali belum menyentuh daerah-daerah tertinggal yang ada di Indonesia. Sehingga, daerah yang tidak tersentuh pembenahan, terus tertinggal dibandingkan daerah lain yang mudah dijangkau. Salah satu efek dari ketidakmerataan pembenahan tersebut adalah timbulnya masalah pemerataan pendidikan yang berdampak pada generasi muda Indonesia yang mengalami kendala dalam menempuh pendidikan, hingga mengalami putus sekolah atau bahkan tidak mengenyam pendidikan sama sekali.

Angka putus sekolah beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa wilayah Indonesia Timur masih berada di peringkat tertinggi khususnya pada pendidikan dasar yang pada hakikatnya merupakan basis dari pengembangan manusia. Berdasarkan data dari Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal (PAUDNI), terdapat sekitar 800 ribu anak-anak putus sekolah di kawasan Indonesia Timur. Penyebab anak-anak putus sekolah disebabkan oleh berbagai faktor, seperti : Minimnya fasilitas sarana dan prasarana, kurangnya tenaga pendidik, kurangnya dukungan dari orang tua, dan kurangnya stimulus yang diberikan kepada anak usia sekolah sehingga mereka tidak termotivasi untuk melanjutkan pendidikan.

Beberapa bulan terakhir, berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menanggulangi permasalahan putus sekolah tersebut. Hasilnya terlihat pada Angka Partisipasi Kasar (APK) SD yang menunjukkan hasil yang bagus menurut Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua. Selain itu, diadakan pula ujian kesetaraan yang diikuti oleh warga setempat. Upaya-upaya peningkatan mutu pendidikan dan pemerataan pendidikan di wilayah Indonesia Timur tentu tidak bisa berhenti sampai disitu saja. Berbagai upaya lanjutan masih perlu dilakukan.

Beasiswa merupakan salah satu solusi yang ditawarkan oleh pemerintah maupun dari berbagai elemen masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan. Namun, seringkali beasiswa tersebut salah sasaran. Bantuan dana tersebut seharusnya diberikan kepada pihak yang memang membutuhkan, akan tetapi pada praktiknya banyak disalahgunakan. Misalnya pada pemberian beasiswa kepada pelajar berprestasi yang pada dasarnya hidup dari keluarga yang serba ada. Karena orang tuanya masih sanggup untuk membiayai pendidikannya, maka bantuan yang diberikan diperuntukkan untuk keperluan lain yang sifatnya mengarah kepada hedonisme. Aneka pencapaian ditambah lagi bantuan yang diberikan dapat memicu timbulnya sifat hedon dalam diri anak tersebut. Faktanya, banyak keluaran pendidikan yang melewati proses pendidikan tanpa hambatan yang ujung-ujungnya menjadi penjahat kelas kakap atau sebut saja koruptor, misalnya. I am not judge. Just an opinion.

Ketika berbicara tentang siapa yang berhak menerima beasiswa, maka salah satu jawabannya adalah generasi muda di wilayah Indonesia Timur. Ketika berbicara beasiswa seperti apa yang mereka butuhkan? Jawabannya adalah beri mereka kesempatan untuk menuntut ilmu dengan layak tanpa perlu memikirkan pekerjaan yang belum saatnya mereka kerjakan demi memenuhi kebutuhan hidup. Sebagai gantinya, berikan pengalaman menarik yang sesuai dengan lingkungan hidup mereka sebagai sumber utama inspirasi dan motivasi mereka dalam menempuh pendidikan. Selain itu, dengan adanya bantuan dana tersebut, orang tua siswa tidak lagi khawatir dengan kondisi perekonomian mereka. Menyekolahkan anak-anak bukan lagi beban tambahan yang perlu mereka pikul.

Bukan dilihat dari seberapa tinggi nilai rapor ataupun IPK mereka, tapi apa yang benar-benar mereka butuhkan. Beri mereka beasiswa untuk mengembangkan kemampuan dan menempuh pendidikan yang berkaitan dengan sumber daya alam, sehingga kelak ketika mereka sudah ahli di bidangnya, mereka kembali mengabdi di daerah asal mereka, wilayah Timur Indonesia. Beasiswa yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya alam setempat tidak hanya berlaku di wilayah Indonesia bagian Timur akan tetapi juga dapat menjadi solusi bagai permasalahan serupa di daerah lain yang sumber daya alamnya melimpah. Ketika sumber daya manusia dan sumber daya alam di Indonesia sudah seiring, ditambah dengan pendidikan karakter yang mulai diimplementasikan dalam sistem pendidikan nasional, Indonesia akan  mampu menjadi negara yang berjaya melalui pendidikan (tidak ada salahnya punya mimpi. Ya kan?).

Sekian.

Turut berduka cita kepada korban teror bom yang lagi lagi terjadi di salah satu sudut negeri ini. Semoga ini yang terakhir.

Marhaban Yaa Ramadhan

Read More

Rabu, 31 Januari 2018

Naif

Peluru dari meriamku tak jua bersua dengan jantungmu, mungkin karena niatku memang bukan untuk mematikanmu, tapi membumi hanguskan sekutumu-

ballzmag.com

Semoga saya menulis ini dalam keadaan tidak sadar, sehingga setiap hal yang seharusnya tidak tersampaikan dapat tersampaikan tanpa menjadi beban bagi siapapun, terutama untuk diri sendiri yang entah sudah berapa lama frustasi dengan topik yang serupa.
Postingan kali ini cuma diniatkan untuk curhat..

Untuk ukuran manusia yang tidak begitu suka dengan keramaian, saya tidak akan protes jika dicap sebagai manusia yang kurang piknik. Tapi sesungguhnya julukan yang paling pas adalah manusia yang biasa saja, hanya sedikit takut dengan perang. Kata perang pertama kali saya konsumsi saat masih di bangku Sekolah Dasar, tapi waktu itu belum memberikan pengaruh apapun pada diri seorang anak yang masih senang bermain boneka panda dibandingkan membaca tulisan yang tidak banyak gambarnya. Baru ketika menginjak bangku SMP, saya mulai risih dengan kata “perang” ini, apalagi ketika pelajaran IPS berlangsung, bapak guru menjelaskan tentang Perang Dunia 1 dan Perang Dunia 2, sebab terjadinya, proses terjadinya, sampai akibat adanya perang antar-negara tersebut. Bulu kuduk saya merinding, hari-hari saya lalui dengan penuh ketakutan akan munculnya Perang Dunia Ketiga. Namun, karena tidak ada yang sepemikiran dengan saya waktu itu, kegelisahan saya akhirnya mereda, hanya muncul ketika berjumpa dengan hal-hal berbau perang, misalnya bunyi petasan yang menyerupai bunyi bazoka waktu perayaan tahun baru di kampung.

Memasuki tingkatan pendidikan yang lebih tinggi di Sekolah Menengah Atas, definisi Perang ini, dibahas lebih jelas pada Bidang Studi Sejarah, ternyata perang tidak hanya sebatas perang dunia tetapi juga terjadi pada zaman dahulu, dari Perang di zaman Rasulullah SAW, perang salib, perang Napoleon, sampai perang yang terjadi di abad 21 dan berbagai perang yang mewarnai sejarah umat manusia. Belum lagi informasi yang saya dapat ditambah dengan film-film bernuansa Perang yang beredar dari satu flashdisk ke flashdisk yang lain sampai ke Laptop saya dan akhirnya bisa saya tonton. Satu hal yang bisa saya simpulkan waktu itu adalah bahwa : perang benar-benar adalah hal yang sangat mengerikan.

Memasuki dunia kampus, dengan pemikiran yang tidak lagi senaif siswa SMA, akhirnya saya menyadari bahwa Perang ternyata bukanlah hal yang bisa terjadi begitu saja tanpa ada hal-hal yang mendahuluinya. Perang hanya terjadi ketika ada perselisihan, konflik, amarah, keserakahan, perebutan kekuasaan, dan lain lain. Untuk pertama kalinya, saya bersyukur Indonesia tidak berada pada deretan Negara Maju di dunia yang selalu haus akan kekuasaan tertinggi. tapi di sisi lain, saya justru khawatir dengan kondisi internal NKRI, ada saja permasalahan yang memicu konflik di Ibu Pertiwi. Inilah alasan kenapa tulisan di Postingan Blog ini selalu mewanti-wanti agar tidak ada perpecahan diantara kita, Rakyat Indonesia.

Iya, karena Author blog ini tidak suka setiap hal yang memicu munculnya Peperangan. Entah itu perang dingin ataupun yang angkat senjata. Keduanya hal yang tidak bisa dibenarkan.

Kemudian, yang tidak henti-hentinya mengiris hati adalah pertentangan atau mungkin lebih tepat jika dikatakan penderitaan yang dialami oleh rakyat Palestina, Muslim Rohingya, dan negara-negara yang sering muncul di pemberitaan tidak lain adalah akibat dari keserakahan Manusia.

Sekian.

Author blog ini memang aneh, ketika mahasiswa lain sibuk menurunkan UKT dan melawan birokrasi, dia malah berimajinasi dengan “Perang” nya. Meskipun dia juga merasakan sulitnya membayar uang kuliah di awal semester (kebetulan masuk dalam kelompok dengan pembayaran UKT yang cukup banyak dan tidak sesuai dengan kondisi ekonomi orang tua sehingga juga merasa dipersulit belajar di bangku perkuliahan tapi semoga tidak sampai cuti semester) ditambah lagi dengan  Permenristek dikti No.39 tahun 2017 pasal 7 yang di dalamnya tercantum aturan bahwa PTN tidak menanggung biaya KKN, tapi mau bagaimana lagi, mereka punya Peraturannya dan saya tidak punya cukup amunisi untuk memberontak, jadilah saya berimajinasi.

Author blog ini juga tidak menerima intervensi dari pihak manapun, karena dari awal memang tidak bergabung di gerakan mahasiswa manapun juga di kepentingan kelompok manapun, jadi saya bebas menulis, bebas meletakkan tanggung jawab dimanapun. Termasuk di wilayah mencegah terjadinya perang dengan tulisan. Kita punya tanggung jawab kita masing-masing, bukan?

Sedikit kutipan dari Albert Camus untuk menutup tulisan ini :


“Aku telah membuktikan bahwa siapapun, tanpa berlatih sebelumnya, jika dia menggunakan pikirannya, dapat memainkan perannya yang absurd menuju kesempurnaan”
Read More

Jumat, 26 Januari 2018

Paradoks

Banyak yang ingin kukisahkan perihal bekas hujan di lampu jalanan, tapi kau hanya diam, berdiri di persimpangan jalan dan bimbang-

Hype - IDN Times

Sepertinya ungkapan “Tak Kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta” adalah sebuah ungkapan mainstream yang sering diungkapkan seseorang ketika pertama kali bertemu dengan seseorang atau sekelompok orang. Ungkapan ini sangat sering saya dengar ketika pertama kali jadi mahasiswa, tentu saja diungkapkan oleh dosen yang membuka kuliah perdananya. Mahasiswa mana mau menggunakan ungkapan lawas itu untuk berkenalan, alih-alih basa-basi pakai kata-kata bijak, mereka lebih suka straight to the point dengan minta kontak Whatsapp. True?

Tapi ungkapan itu kalau ditelaah lebih jauh memang ada benarnya. Mana mungkin kita ingin mencintai suatu hal tanpa pernah mengenal sebelumnya? Sudah kenal saja belum tentu cinta, apalagi tidak sama sekali. Ya kan?

Dari ungkapan itu juga, saya menyadari bahwa kenapa di postingan sebelumnya ketika pembahasannya mengarah kepada dunia politik, banyak yang menganggap saya bercita-cita jadi politisi. Sungguh saya heran, bahkan berulang kali introkspeksi diri. Saya salah nulis apa gimana ini? Salah ya, kalau berusaha mempelajari ilmu yang satu ini?

Ternyata, realitanya memang banyak orang yang menganggap bahwa pembicaraan seputar politik itu “tabu”. Sungguh hal itu dapat dimaklumi, karena mungkin mereka berlum terlalu mengenal politik itu sendiri. Jangan sampai ketika berbicara politik yang terlintas di benak kita ini hanya koruptor. Nggak! Tidak sesederhana itu.

Entah siapa yang harus disalahkan ketika persepsi semacam itu timbul di kepala masyarakat. Karena pada realitanya, kita semua pasti mengalaminya sendiri dimana selama 12 tahun kita sekolah, pernah tidak diajarkan seputar politik secara intens? Paling hanya di wilayah ilmu-ilmu sosial, itupun hanya di wilayah Pendidikan Kewarganegaraan yang kalau saya ingat-ingat, berputar di wilayah mematuhi tata tertib, cinta tanah air, hafal pancasila, dan lain sebagainya. Tidak ada seingat saya yang berbau pendidikan politik. Kurikulum Pendidikan di Indonesia ternyata memang tidak terlalu memberi perhatian lebih terhadap pengetahuan yang satu ini.

Lalu, pada saat berumur 17 tahun tanpa memiliki dasar-dasar pendidikan politik, dimana pada usia ini kita sudah dituntut untuk menggunakan hak pilih atau hak politik sebagai warga negara misalnya pada pesta demokrasi. Lantas, apa kemudian bekal kita untuk memilih wakil rakyat? Apa yang menjadi pertimbangan kita untuk memilih si A atau si B? Berbekal doktrin dari orang tua kita yang pada dasarnya hanya memilih karena diberi janji-janji manis atau berupa barang semacam sarung  atau kaos partai? Mau jadi pemilih berbekal sogokan macam itu? mau memberi kekuasaan kepada orang-orang yang terpilih dari hasil kampanye hitam macam itu?

Hal ironis semacam itu dijumpai pada generasi muda. Tidak ketinggalan, mahasiswa juga demikian. Kalau bukan mahasiswa jurusan ilmu Politik, mana ada mata kuliah yang berbau pendidikan politik? Belum lagi wacana yang mengatakan bahwa Dunia Kampus itu tidak boleh dibumbui dengan Politik. Hal ini cukup aneh, Anda yakin, di kampus itu benar-benar tidak ada unsur politik? Apa salahnya mempelajari seputar politik yang bebas dari identitas, partai, atau tokoh tertentu. Justru kampus memang wadahnya mahasiswa untuk berpikir aktif dalam berbagai hal tanpa harus dibatasi.

Kalau secara sederhananya Politik itu semacam kegiatan atau interaksi antara rakyat dengan pemerintah  dalam proses menentukan tujuan, baik dalam proses pembuatan keputusan maupun pelaksanaan keputusan dan bersifat mengikat dalam suatu wilayah tertentu.

Nah, pengertian politik jelas mencakup pemerintah dan rakyat, sehingga rakyat juga punya hak untuk turut serta berperan aktif dalam dunia perpolitikan. Sampai saat ini, Pemahaman masyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa sistem politik itu bukan urusan mereka melainkan urusan pemerintah, sehingga masyarakat masih ada yang dibodoh-bodohi atau diberikan janji–janji manis yang pada kenyataannya atau penerapannya tidak sesuai dengan yang telah dijanjikan ketika sudah berhasil meraih kekuasaan.

Bagaimana, sudah dapat Paradoks nya?

Jadi sudah jelas kan, kalau postingan sebelumnya itu bahas masalah politik, bukan berarti author blog ini ingin bergabung ke Partai Politik tertentu atau ingin jadi wakil rakyat. Bukaaan!! Saya tidak punya cukup mahar (hahahaha). Author hanya ingin kenal, agar nantinya ketika dihadapkan pada isu politik, author tidak sekedar gigit jari.

Postingan kali ini lebih kepada mengkritik, entah itu kurikulum di Indonesia yang kurang memberikan Edukasi seputar Politik kepada masyarakat sehingga Politik menjadi hal yang “tabu” dibicarakan oleh masyarakat atau bahkan kritikan kepada diri sendiri yang sampai saat ini masih awam dan hanya mendapat edukasi seputar politik di media sosial atau buku-buku, sehingga masih terkesan apatis atau bahkan skeptis terhadap isu-isu politik di Negara tercinta ini.



Hidup KPK!


Read More

Rabu, 17 Januari 2018

Defensif

-Harapan yang kau bungkus rapi harus mampu kau makamkan dengan tega berkali-kali, karena setiap hal yang terbang tinggi tanpa pernah kau perhitungkan matang-matang, akan berakhir pada kematian-

Prelo
Waktu itu terus berjalan tanpa sedikitpun ingin tahu siap atau tidaknya kamu melaluinya. Ia terletak dimanapun kamu berkenan meletakkannya. Jika di  masa lalu, ia membawamu kesana, jika di masa depan juga dengan senang hati akan membawamu kesana. Tapi kedua masa itu tidak lain hanya angan-angan. Hanya pada masa sekarang, waktu membawamu dengan nyata. Ia terletak tepat disisimu. Semua terletak pada dirimu, ingin menjadikannya teman dalam perjalananmu atau memaksanya meninggalkanmu.

Hanya bersama orang-orang tabah ia tak menghianati. Jika yang kau ungkit dengannya hanya kelamnya masa lalumu, ia tak segan-segan menguburmu disana. Waktu benci diajak bernostalgia. Apalagi bersama kenangan-kenangan buruk yang pernah kau torehkan. Pikirmu hanya kau yang trauma? Ia juga merasakannya. Ia berada tepat di sisimu saat itu.

Lalu kenangan indah yang katamu sulit untuk kau ajak berdamai. Waktu menghargai itu, tidak sedikitpun ia ingin menghapusnya dari kronoligis kehidupanmu. Meski dengan hipokritnya kamu berkata ingin lupa ingatan. Waktu tahu betul besarnya kebohongan yang tersirat dalam kata-katamu itu. hanya mulutmu yang membenarkan. Tidak sedikitpun jiwa dan ragamu ingin beranjak kala bahagia menyelimuti pikiranmu. Pikirmu hanya kau yang gembira? Waktu paham kapan ia harus memberimu fatamorgana. Seakan-akan ia berjalan cepat semerntara tak sedetikpun ia mempercepat lajunya.

Kamu tidak tahu betapa tersanjungnya ia kala kau mempercayakan padanya tentang luka yang katamu akan hilang seiring berjalannya ia. Tanpa sadar kamu telah meyakinkan detiknya bahwa minggu, bulan, tahun, bahkan abadnya begitu berarti. Setidaknya untuk luka dari seorang yang cengeng sepertimu.

Lalu tentang manusia-manusia berpakaian rapi yang menganggapnya uang. Time is money . ia merasa jijik mendengar namanya disetarakan dengan benda yang hampir-hampir menjadi berhala bagi sebagian manusia. Pahamilah bahwa ia jauh lebih berharga daripada uang-uang yang kau kejar kemudian kau hamburkan setiap harinya. Ia jauh lebih suci dibandingkan uang-uang yang diserah terimakan kepada tangan-tangan kotor yang entah bekas berbuat apa.

Lebih dari pada itu, ia paling muak dengan curahan hati remaja-remaja masa kini yang mengaku generasi millenial tapi yang mereka galaukan hanya perihal kisah percintaan mereka yang entah sudah berapa babak, belum lagi mereka yang bermental selebriti, selalu ingin menjadi tenar seakan-akan setiap hal yang ia kerjakan harus menjadi konsumsi publik, suatu saat mungkin kata ‘privasi’ akan dihapus dari kamus, juga mereka yang bermental korban, selalu menganggap dirinya yang paling menderita diantara semua manusia yang ada di bumi padahal sebagian besar kebutuhannya terpenuhi kecuali mungkin otak yang tidak bisa ia gunakan dengan baik. Waktu merasa dibuang percuma. Berkat remaja-remaja kekinian itu, ia selalu merasakan sakitnya di sia-siakan bahkan ketika ia tidak mempunyai hati sekalipun.

Untuk kesekian kali, ia lagi-lagi berada pada ramalan sesat manusia bahwa sebentar lagi ia akan berakhir. Tapi nyatanya tak juga ia diakhirkan, ia tidak lagi ingin percaya dengan prediksi manusia tentang kapan ia akan benar-benar bertemu dengan ujungnya. Karena ia sendiri tidak pernah diberitahu oleh yang pertama kali memberinya tanggung jawab hadir di sisi manusia. Yang dia tahu hanya terus hadir di tempat ia seharusnya berada dan menjadi saksi atas setiap ulah manusia, ikut berbahagia, ikut bersedih, bahkan ikut dalam setiap hal-hal yang menurutnya kotor untuk dikerjakan oleh mahluk yang disebut manusia.

Yang ia tahu, ia harus pandai bersikap defensif, terus menerus berusaha bertahan dengan segala perlakuan yang ia terima tanpa bisa protes karena memang ia tak dikaruniai mulut, berbeda dengan manusia di luar sana yang meski punya bagian lengkap di tubuhnya, mereka memilih apatis dengan ketidakadilan.



Sedikit sarkasme di waktu libur yang terasa amat panjang~
Read More

Senin, 15 Januari 2018

Tahun Pemanasan

Menulis saja! Sampai hembusan nafasmu mampu Kau jadikan diksi-

Halo 2018 !

Tahun ini banyak sekali yang membicarakan tentang hal-hal panas yang sungguh mengherankan mengingat kenyataan bahwa awal tahun ini banyak diisi dengan guyuran hujan yang seharusnya menyejukkan. Lalu bagian mana yang panas?

Panas tahun ini ternyata tidak lagi didefinisikan sebagai suatu cuaca atau musim. Tapi lebih kepada kondisi politik di Indonesia. Berulang-ulang disebutkan di berbagai media, katanya 2018 adalah Tahun Politik atau ada yang menyebutnya dengan Pesta Demokrasi. Kalau menengok sejarah, demokrasi Indonesia pernah dilumpuhkan mulai pertengahan 1959 sampai dengan tahun 1998, mengalami masa jeda sebentar antara tahun 1966-1967. Kemudian masa Orde Baru tumbang pada akhir 1998, Indonesia memasuki era reformasi, terbukalah lagi gerbang demokrasi yang dikomandoi oleh Presiden BJ Habibie.

Tahun ini lagi-lagi pesta Demokrasi digelar. Tapi 2018 ini tentu baru merupakan pemanasan. Demokrasi yang paling dinanti oleh rakyat adalah tahun 2019, dimana yang bersaing adalah calon Pemimpin rakyat di seluruh wilayah Indonesia. Bagaimana kondisi pesta demokrasi kali ini? Apakah bisa menjadi wujud perbaikan sistem demokrasi yang berlaku di Indonesia atau malah sebaliknya?
Melihat dari banyaknya persepsi dari berbagai pihak yang mengatakan bahwa tahun politik itu panas, sepertinya benar adanya. Belum dimulai saja sudah banyak sekali ingar bingar yang ditampilkan lewat berbagai media. Butuh penalaran yang mendalam agar keingar-bingaran itu tidak membawa kepada hal-hal yang buruk.

Untuk berkompetisi di kancah perpolitikan banyak sekali cara-cara yang dilakukan oleh kaum politik antarpartai atau antarelit. Persaingan menjadi hal yang tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi tapi juga terang-terangan. Mereka bahkan terkesan menghalalkan segala cara untuk mencapai kursi yang sejatinya memang diperebutkan berbagai pihak (iyalah, namanya juga politik).

Namun, ada satu hal yang cukup unik yang bisa dikatakan juga cukup berbahaya. Kaitannya dengan sebuah teori politik dari Amerika “Overton Window” atau jendela overton, Sebuah konsep dalam teori politik yang dikembangkan oleh Joseph P. Overton yang menunjukkan bahwa ada "jendela" gagasan dan usulan kebijakan yang dapat diterima dalam wacana publik. Segala sesuatu di dalam jendela itu normal dan diharapkan, sementara segala sesuatu di luar jendela bersifat radikal, konyol, atau tidak terpikirkan. 
Hype - IDN Times

Mengapa berbahaya? Karena menurut teori ini sejatinya persepsi publik bisa digeser kesana kemari. Dari hal yang tidak normal, menjadi suatu hal yang normal ataupun sebaliknya, dapat diterima di masyarakat. Dalam menggeser persepsi masyarakat akan suatu kebijakan, ada aktor memegang peran yang cukup krusial. Bayangkan jika hal itu berlaku di perpolitikan di Indonesia.

Jendela Overton ini misalnya bisa dilihat dimainkan oleh Donald Trump, presiden Amerika Serikat. Siapa yang menyangka kalau orang dengan berbagai pemikiran Ekstrimnya itu bisa menjadi Presiden di Negara besar seperti Amerika? Karena ia mampu menggeser persepsi warganya lewat berbagai media.

Hal ini tidak menutup kemungkinan juga bisa terjadi di Indonesia. Hal-hal yang tidak sesuai dengan norma di Indonesia bukan tidak mungkin bisa menjadi hal yang diwajarkan atau bahkan menjadi suatu kebijakan. Jika digaungkan secara terus menerus dan dibumbui dengan hal-hal yang logis.

Persepsi kita, kalian ternyata bisa diubah! Teori Overton Window ini bisa menjelaskan bagaimana kaum-kaum yang memiliki kepentingan di dunia politik atau sebut saja mereka politisi bisa merubah persepsi masyarakat, bukan tentang benar atau tidak, tetapi tentang normal dan tidak normal. Jadi, sebagai masyarakat seharusnya kita paham ketika persepsi kita ini sedang digeser. Cepat-cepat bangun! Janga terbawa suasana. Apalagi, sarana yang digunakan politisi itu sangat mudah diakses oleh masyarakat. Contoh yang paling sering kita ajak bercengkrama : Media. Isu-isu yang diangkat di berbagai media jangan langsung dilahap secara mentah. Pertimbangkan secara matang-matang, normalkah isu tersebut? Sesuaikah dengan masyarakat Indonesia? Jangan mentang-mentang hal yang disuguhkan itu logis, kemudian langsung diterima begitu saja. Analisis secara kritis dan mendalam. Apalagi, yang kita hadapi ini tahun Politik, yang menentukan siapa yang nantinya akan memimpin wilayah bahkan negara kita.

Teori ini mungkin tidak begitu terkenal, tetapi bagi teman-teman yang memang mendalami Ilmu Politik seperti mahasiswa jurusan Ilmu Politik pasti sudah tidak asing. Author masih pada tahap belajar dan hanya mahasiswa Ilmu Pendidikan, jadi silahkan browsing atau cari literatur yang berkaitan dengan overton Window ini, semoga bisa menambah wawasan teman-teman sekalian.
Intinya, mari kita jaga Indonesia kita ini, apapun yang kita hadapi. Berbagai provokasi pasti akan muncul di permukaan, tapi tetap ingat bahwa, perpecahan bukan hasil yang kita inginkan bersama. Tetap bersatu!



Hidup KPK !
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

Sample Text

Followers

Followers

Recent Posts

Recent Comments

Introduction

About

Pages

Blogger templates