with Yuliana Firman

Senin, 28 November 2016

Bisikan dari Hujan : Cengkraman Garuda

Terserah ingin kau hubungkan dengan apa hujan itu, entah kenangan atau genangan. Bagiku, hujanlah keindahan yang nyata~

www.qureta.com
Tak ada maksud mengagungkan hujan begitu berlebihan. Tapi di bulan-bulan akhir tahun ini, seperti dihipnotis, pesonanya semakin membuatku jatuh ke afeksi yang tidak terkendali. Mataku hanya mampu memandangi rinainya yang saling berkejaran, sementara ragaku kaku tak ingin beranjak, tak ada yang boleh mengganggu kemesraan yang kujalin dengan tetesan air dari langit itu. Tidak ada kenangan dan persetan dengan genangan. Bukan salah hujan, aku lebih senang menyalahkan lubang-lubang di jalanan beraspal yang rusak.

Sedikit informasi, Aku mampu berkomunikasi dengan hujan. Kau boleh menyebutku gila, tapi inilah yang ia sampaikan padaku :

-Hari ini Aku diutus untuk jatuh di sebuah negara. Sudah sering Aku jatuh ditempat itu. Tapi akhir-akhir ini rasanya suasana di tempat itu terasa mencekam. Aku tahu betul bagaimana kondisinya sejak negara itu masih terpecah belah, sebelum rakyatnya memberinya predikat ‘Merdeka’. Kau tahu, Aku kembali merasakan perasaan itu. Masa ketika setiap orang menempatkan ego di atas segalanya. Ketika masih ada sekat-sekat di antara mereka. Ketika belum ada lima sila yang dibacakan anak sekolah setiap hari senin di upacara bendera. Atau ketika belum ada burung garuda yang di pajang di atas papan tulis di ruangan kelas.

Aku ingat ketika Aku diutus beberapa minggu yang lalu. Aku mencoba memastikan apakah burung garuda yang dipajang itu masih berpegangan pada sebuah pita. Rinaiku merasa lega ketika cengkraman burung garuda pada pita itu masih terlihat begitu kuat. Aku hanya takut, ketika pita itu dilepas oleh burung garuda. Aku tidak ingin semboyan yang begitu indah yang tertulis di pita itu menghilang. Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu, katanya.

Ketika pita itu nyatanya masih dicengkram kuat, lantas mengapa rakyatnya terlihat begitu sensitif? Pembahasan mereka tidak lepas dari saling hujat, bertentangan, hingga saling membenarkan diri mereka masing-masing. Kaum mayoritas menyudutkan minoritas, sementara mereka yang minoritas dari sudut menodongkan perisai-perisai kedengkian.

Kau pasti setuju denganku wahai pemuda masa kini, ketika kukatakan bahwa sosial media dipenuhi dengan postingan-postingan konflik bernuansa SARA. Postingan itu kemudian dipenuhi komentar-komentar saling menjatuhkan satu sama lain. Tak ayal, kata-kata kasar bagai pedang yang mengoyak perasaan diluncurkan begitu saja. Seakan-akan papan ketik yang mereka gunakan dipahat dari neraka.

Mereka yang mengangung-agungkan pluralisme dan menyebutnya sebagai aset negeri ini mulai terlihat apatis. Bagaimana tidak? Ketika ia berada di golongan merah, ia disebut sebagai provokator kemudian ketika berada di golongan putih, ia mulai dianggap sebagai penista. Bahkan ketika netral pun ia masih di cap dengan predikat tidak menyenangkan. Lalu harus diapakan kondisi seperti ini? Haruskah berpura-pura tidak tahu? Rantai yang membelenggu dan menimbulkan sekat-sekat tidak akan hancur ketika orang-orang menolak untuk tahu.-

Itu yang hujan sampaikan padaku. Aku juga penasaran bagaimana kelanjutannya. Tapi rinainya berhenti tiba-tiba sebelum Aku sempat bertanya apa yang harus Aku perbuat berikutnya? Sebagai seorang mahasiswa yang awam, Aku hanya mampu mengartikannya sebagai bahan renungan. Bagaimana denganmu?

(sedikit catatan di sore yang bebas, tanpa tugas kuliah)
Read More

Rabu, 02 November 2016

Rasional Bukan Berarti Tanpa Rasa

Halo!
Selamat Tahun baru tahun depan!
For your information, sama halnya dengan postingan-postingan sebelumnya, tulisan ini dibuat dalam keadaan yang masih dalam taraf mencari tahu dan beberapa potong tempe. Jadi ketika ada hal-hal yang tidak bisa diterima oleh pembaca yang ilmunya jauh lebih mumpuni, maafkan keterbatasan ilmu yang penulis miliki.

Jangan tanya kenapa judulnya tiba-tiba keramat. Pakai kata rasional segala. Judul ini saya dapat dari seorang dosen yang di sela-sela memberikan kuliah tentang bagaimana menghadapi siswa kelas rendah, tiba-tiba mengeluarkan kalimat sepuitis “Rasional bukan berarti tanpa rasa”. Seketika kantuk saya hilang dan dengan sigap mengecek kaki dosen tersebut dan Alhamdulillah masih menyentuh lantai. Iya, takutnya beliau juga adalah dosen ghaib seperti yang booming baru-baru ini. Terimakasih Ibu dosen, setidaknya ada sedikit inspirasi untuk mengupdate blog yang sudah usang ini.

Memiliki kemampuan berpikir rasional merupakan suatu aset yang berharga bagi seonggok daging yang menyebut diri mereka manusia. Pemikiran rasional adalah cara berpikir menggunakan penalaran berdasarkan data yang tersedia untuk mencari kebenaran faktual, keuntungan dan tingkat kepentingan. Dalam kata rasional, barangkali sudah mencakup berbagai kata yang maknanya hampir sama, seperti kritis, analitis, bahkan mungkin idealis. Mungkin yaa (pemahaman saya belum sampai disitu)..

Mengapa saya mengatakan aset yang berharga? Karena ketika cara berpikir rasional diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mereka yang memiliki kemampuan berpikir rasional dengan baik, akan memiliki motivasi yang kuat terhadap segala sesuatu, baik saat belajar, bekerja, beraktivitas maupun saat mengalami kegagalan atau suatu tekanan. Apa yang perlu dipermasalahkan ketika sudah memiliki dasar atau keyakinan? Saat berhadapan dengan masalah apapun, pasti akan kembali ke seberapa logisnya masalah tersebut harus diselesaikan.

Wah, dua paragraf di atas cukup serius ya. Kalau diseriusin sampai paragraf ketiga, takutnya kepala saya berasap. Nah makanya beralih ke bagian lain dari judul, tentang ‘rasa’. Iya, bagaimanapun rasionalnya suatu hal, bukan berarti ia tidak memiliki rasa, bukan? Rasa yang saya maksud disini bukan rasa sapi panggang, original, rumput laut, ataupun anggur, melon, durian, apalagi sapi panggang campur durian. Bukan. Rasa yang saya maksud terkait dengan hal-hal yang tidak begitu membutuhkan nalar tapi lebih kepada naluri dan bukan berarti irasional. Ia tetap rasional hanya saja dibumbui dengan sedikit rasa.

Ikhlas, misalnya. Rasa ikhlas menurut saya bukan sebatas menyerahkan sesuatu kepada orang lain lantas berkata “ambil saja, saya ikhlas”. Ketika mengatakan hal yang terdengar baik itu, bukankah ada pamrih di dalamnya? Mengharapkan umpan balik seperti balas budi ataupun sesederhana ucapan terimakasih atau seulas senyum sekalipun bukankah itu termasuk meminta pamrih secara tidak langsung?

Contoh nyatanya bisa dilihat pada pesta-pesta demokrasi. Para wakil rakyat yang memberikan bantuan besar-besaran secara Cuma-Cuma ‘katanya’, lalu ujung-ujungnya berkata “ingat coblos nomor 999”. Apanya yang Cuma-Cuma? Cumi? Ataupun bos pada suatu perusahaan memberikan bonus mobil atau rumah kepada karyawannya dengan harapan karyawannya dapat bekerja lebih giat. Harapan itu juga termasuk meminta pamrih bukan? Bukankah ikhlas itu tanpa pamrih? Lalu ikhlas yang sebenarnya itu seperti apa?

Pernah tidak, Anda mampir di pom bensin mini di pinggir jalan dalam keadaan yang terburu-buru. Setelah mengisi bensin, mengeluarkan uang sepuluh ribu. Belum sempat diberikan kembalian dua ribu rupiah, Anda langsung tancap gas sambil berkata “ambil saja kembaliannya” kemudian kembali terburu-buru untuk sampai ke tujuan. Kemudian uang kembalian yang tadi tidak sempat Anda ambil terlupakan dalam sekejap. Tanpa pamrih, bukan? Itukah ikhlas?

Atau pernah tidak, Anda menjatuhkan sebuah penghapus bekas yang tadinya masih berwarna putih sekarang sudah berubah menjadi kecoklatan karena sudah terlalu sering digunakan untuk menghapus, entah itu menghapus tulisan, coretan, atau kenangan *eh*. Lantas penghapus itu dipungut oleh orang lain dan ia memintanya. Anda dengan masa bodoh berkata “ambil saja” lalu berkata dalam hati “lagipula itu sudah tidak kugunakan”. Anda memberikan hal yang sudah tidak berguna itu tanpa pamrih, bukan? Itukah ikhlas?
Kalau kasus uang kembalian dua ribu rupiah dan penghapus bekas yang mungkin tidak ada nilainya bagi pemberi dijadikan ukuran keihlasan, bukankah terlalu mengkerdilkan makna keikhlasan itu sendiri? Jadi ikhlas itu seperti apa, wahai rasionalis? Bukan hanya rasa ikhlas, Rasa lain seperti ketulusan, yang saya rasa tidak perlu dianalogikan seperti rasa ikhlas diatas, karena ketika berbicara tentang tulus, takutnya banyak yang baper. Tahu tulus kan? Penyanyi solo yang punya lagu sepasang pentofel ituu. Bukan. Bukaan.

Sebenarnya apa yang coba saya sampaikan dari tulisan ini? Ada hal-hal yang tidak perlu terlalu dihubungkan dengan nalar. Ia lebih membutuhkan naluri, dorongan dari hati. Tanpa perlu akal ikut andil di dalamnya. Keikhlasan, ketulusan, kasih sayang, dan hal-hal lain sejenisnya yang tidak perlu dipelajari. Mereka hadir secara alamiah dalam diri seorang manusia. Ketikapun Rasionalitas turut andil di dalamnya, ia hadir sebagai penguat bukannya menimbulkan keragu-raguan pada diri seseorang. Alangkah lebih baiknya ketika Rasional disertai rasa ditanamkan dalam diri manusia. Ketika sisi keras pada setiap orang disatukan dengan hati nuraninya, Kemanusiaan akan menjadi hal yang lumrah diagung-agungkan diberbagai belahan dunia.
aquariuslearning.co.id

Cukup sekian. Dapat atau tidak maknanya, semua kembali kepada pembaca sekalian. Btw, di bawah ada kolom komentar. Silahkan berkomentar atau berikan sedikit saran topik yang menarik untuk diulas kedepannya. Blog ini jarang di update karena kekurangan topik. Karena yang punya blog hidupnya terlalu datar. Tapi bumi tetap bulat.

Hidup Bumi Bulat!
Read More

Senin, 01 Agustus 2016

Ada Kalanya Realita Datang Menyapa

Halo!
Akhirnya, setelah sekian lama, blog yang sudah penuh sarang spiderman ini diupdate!! Meskipun isinya memang tidak penting, tapi postingan kali ini memang saya maksudkan untuk curhat sekaligus memuntahkan apa yang saya pendam selama hampir satu bulan ini. Daripada jadi penyakit, lebih baik tidak jadi penyakit. Salam super! Haha.

Topik postingan kali ini tidak jauh-jauh dari hal yang sedang booming belakangan ini. Bukan tentang awkarin, bumi datar, ahok lewat jalur parpol, ataupun reshuffle kabinet. Bukaan! Ini tentang sederetan huruf yang menghiasi Kartu Hasil Studi. Yap. Indeks Prestasi. Hal yang selama ini cukup membuat saya selalu mengalihkan topik kalau sedang berbicara dengan orang tua.
Ortu : semester ini IP nya berapa nak?
Saya : wah, cuacanya cerah ya! Cicak di atap sudah beranak belum ya?
*kemudian hening*

Sedikit penjelasan, untuk yang belum jadi mahasiswa, karena mahasiswa pasti sudah mengerti apa itu IP, IPS, ataupun IPK. Jadi, mereka kurang lebihnya adalah satuan nilai akhir yang menggambarkan mutu proses belajar mengajar tiap semester, atau secara singkat dapat diartikan sebagai besaran/angka yang menyatakan prestasi (keberhasilan proses belajar mengajar) mahasiswa pada satu semester. Perhitungan IP pada setiap akhir semester bertujuan untuk memperoleh takaran atas prestasi seorang mahasiswa dan untuk menentukan besarnya beban studi yang dapat diambil yang bersangkutan pada semester berikutnya, IP dihitung untuk setiap semester.

Nah, kenapa saya ingin membahas tentang mereka? Karena sederetan huruf seperti A, B, C, D, E, F,G,H, nggak. Cuma sampai E, dihiasi dengan kutub magnet positif dan negatif dibelakangnya ini sudah berhasil membuat saya berpikir keras. Berpikir tentang seberapa penting IPK dalam hidup ini. Dan setelah sok-sokan berpikir, yang dapat saya simpulkan adalah : bumi itu bulat. Bukan, Bukaan! Jadi, kesimpulannya adalah IPK itu PENTING. Cukup penting. Yang tidak setuju boleh keluar dari blog absurd ini dengan terhormat. Kenapa penting? Karna seperti yang saya paparkan tadi, IP pada akhir semester itu menentukan besarnya beban studi yang dapat diambil pada semester berikutnya. Jadi, yang IP nya rendah gimana? Masa Cuma beban hidupnya saja yang banyak? Kan kasian.
Ada beberapa orang yang dengan gampangnya berkata bahwa IPK itu tidak penting. Entah atas dasar apa, mungkin dia adalah anak rektor atau anak presiden. Tapi untuk yang bukan anak rektor dan anak presiden, tidak seharusnya kalian berkata seperti itu. Bro, IPK itu menjadi penilaian dasar untuk mencapai pendidikan di jenjang berikutnya. Bahkan di dunia kerja nantinya.

Ada juga yang berkata bahwa IPK itu tidak penting, karena hanya sederet angka. Yang penting itu adalah kemampuan yang dimiliki. Oke, fix. Kemampuan itu penting. Soft skill itu penting, berorganisasi itu penting untuk mengembangkan bakat dan kemampuan. Bahkan kebanyakan orang yang IPK nya rendah dan aktif berorganisasi itu kemampuannya jauh lebih baik dibandingkan yang ber IPK tinggi dan hanya datang untuk menerima mata kuliah di kampus. Oke, you win. Tapi, “ada kalanya realita itu datang menyapa”. Realita yang mana? Realita di dunia kerja. Saya ingin menganalogikan IPK ini dengan balapan. Yang senang nonton moto gp mari beranalogi. Sebelum seorang pembalap memasuki arena, ada kualifikasi untuk menentukan posisi start kan? Nah, IPK ini sama halnya dengan posisi start. Orang dengan IPK 4,00 berada di posisi pertama, dan IPK 1,00 berada di posisi start paling terakhir.  Mana yang berpeluang menang lebih besar? Jawabannya ada di benak Anda sekalian. Buat yang masih tidak setuju dengan IPK itu penting dan belum keluar dari blog ini pasti berdalih. Lalu mengungkit kemenangan valentino Rossi yang pernah juara dari posisi start ke 11. Nah, disinilah kemampuan itu perlu. Setelah mendapatkan posisi start, atau pekerjaan. Yang berperan selanjutnya adalah kemampuan yang diperoleh dari kegiatan-kegiatan luar kuliah seperti berorganisasi tadi. Setelah diterima dalam suatu pekerjaan, tidak akan ada yang menanyakan tentang IPK lagi. Karena IPK memang hanya dibutuhkan di awal. Yap, hanya sebagai kualifikasi awal. Tapi, memangnya Anda punya kemampuan seperti Valentino Rossi?

IPK juga sama halnya dengan tiket pesawat. Ketika ingin liburan, kita pasti mengemas barang-barang yang diperlukan di tempat tujuan nantinya. Barang-barang yang dikemas di koper ini sama halnya dengan kemampuan yang diperoleh tadi. Setelah berkemas, koper ini akan di bawa ke tempat tujuan kita. Tapi, tanpa tiket pesawat kopernya tidak akan bisa sampai ke tempat tujuan, bukan? Paling Cuma naik pete pete (angkot) terus nyasar ke terminal. Nggak dianggap, terbuang, tanpa arah dan tujuan. Makanya, berliburlah tapi jangan lupa tiketnya. Asah kemampuan, perbaiki attitude, tapi jangan lupa ijazahnya!

Saya rasa beberapa penjelasan di atas sudah bisa menggambarkan mengapa saya berani menjudge bahwa IPK itu penting. Terlepas dari begitu pentingnya juga kemampuan yang harus dimiliki. Jadi, untuk yang punya nasib seperti saya, IP yang anjlok seanjlok-anjloknya, jangan putus asa guys, jangan pernah jadikan ini racun yang membius kalian, membuat kalian ingin berhenti berusaha. Tapi, jadikan sebagai kokain yang memacu adrenalin untuk meningkatkan IP di semester berikutnya. Tapi tetap saja, jangan lupakan soft skill. IPK penting, kemampuan penting, attitude penting, dia penting *eh. Apa salahnya mensejajarkan hal-hal penting itu dalam hidup?
www.spiritinyourlife.com


Hidup Bumi Bulat! *apaansih*
Read More

Minggu, 22 Mei 2016

Satu Kata Sembilan Huruf

Halo!
Ada satu kata dan sembilan huruf yang membuat saya selalu jatuh cinta. bagaimana tidak, keindahannya membuat setiap orang berdecak kagum : INDONESIA. Membayangkannya saja sudah menimbulkan afeksi yang berlebihan hingga membuat lupa akan kehadiran mortalitas. Bukan hanya tentang indahnya, coba tengok sejarahnya. Negara mana yang punya sejarah se-dramatis Indonesia? Untuk kesekian kalinya, saya jatuh cinta pada negara ini.
Namun kali ini, saya ingin mencoba untuk mengesampingkan semua rasa cinta yang tak terukur ini dan ingin mencoba beresoteris pada sisi gelap apa yang saya cintai ini. Berbicara tentang sisi gelap, saya ingat sebutan "Macan Asia" untuk Indonesia yang kemudian beberapa tahun belakangan di tambah menjadi "Macan Asia yang Tertidur" sebuah julukan yang semoga saja mampu menampar Bangsa Indonesia.

Saya ingin memulai pada pemerintah. Bagaimanapun usaha saya berpikir positif ketika mendengar kata “pemerintah”, yang terlintas dalam benak saya hanyalah budak, budak uang. Yang membuat seakan-akan uanglah yang mengatur seluruh sistem di Indonesia. Yang kuat di atas, yang lemah ditindas. Yang memerintah senang menyogok, yang diperintah bermental senang disogok. Cukup serasi untuk merusak pondasi negeri dan menghancurkan generasi bangsa. Coba tanyakan pada masyarakat tentang korupsi. Siapa yang tidak kenal istilah itu? Korupsi sudah menjadi makanan sehari-hari awak media. Saya bahkan sudah bosan, muak dengan istilah nista itu. Saya takut ketika suatu saat korupsi sudah menjadi hal wajar dan bukan lagi sebuah pelanggaran. (Amit-amit. Naudzubillah minzalik!!). Jangan sampai suatu saat, anak cucu kita (iya, kita ) menanyakan tentang pemerintah Indonesia dekade ini, dan yang bisa kita ceritakan hanya kisah koruptor yang semakin dramatis hingga memunculkan babak demi babak. Tragis!

Kita tengok di wilayah pendidikan. Lagi-lagi saya ingat dengan sebuah istilah : “Alergi Teknologi” atau bahasa gaulnya GAPTEK . kita hidup di zaman dimana logam dapat berbicara, logam lebih pandai dari manusia. Kalau tidak pandai, manusia benar-benar akan dikendalikan oleh benda-benda semacam itu. Nah, Masyarakat Indonesia sepertinya beresiko. Tidak perlu jauh-jauh, contoh nyatanya bisa dilihat pada pelaksanaan Ujian Nasional baru-baru ini. Ujian Nasional berbasis Komputer. Baru kabar burung yang menyebar, guru sudah kesana kemari mendoktrin siswanya tentang bagaimana menakutkannya Ujian Online itu. Kan Lucu, belum berperang tapi sudah kalah duluan. Hal inilah yang membuat siswa gelisah, takut menghadapi logam pintar bernama komputer. Contoh lain, belajar Bahasa Inggris dibilang tidak punya rasa Nasionalisme. Ini keterlaluan. Kalau tidak belajar bahasa inggris, lantas apa modal kita untuk hidup di zaman ini? Malu sama globalisasi! Belum lagi pemikiran kolot tentang kebudayaan yang hanya berputar-putar pada wilayah tradisional tanpa mau melihat ke depan akan membuat bangsa ini mengalami stagnasi. Cobalah untuk mempertahankan budaya yang ada sambil terus berkembang. Mengikuti arus tapi tidak terbawa arus globalisasi. Kita tidak lagi dibatasi oleh sekat Geografis. Maka dari itu, jiwa kompetitif mesti ditanamkan pada generasi penerus. Bukan malah menakut-nakuti mereka dengan kata “sulit” dalam menguasai piranti teknologi. Pembahasan tulisan ini sebenarnya tentang Indonesia. Tapi melenceng ke arah globalisasi. Karena rasa cinta tadi, saya selalu ingin negeri ini mampu bersaing di era globalisasi. Bersanding dengan negara-negara maju di luar sana.

Yang paling bobrok dan mengalami kehancuran adalah akarnya, yaitu hal-hal seperti moral, mental, dan hal-hal mendasar lainnya. Korupsi, saling hina, saling hujat, pembunuhan, bentrok antar sesama, pencemaran nama baik, pelecehan seksual yang bahkan sudah merembes ke kalangan anak-anak. Masalah utamanya terletak pada satu hal : moralitas. Ketika berbicara tentang moral, kita putar balik ke wilayah pendidikan. Ada berbagai upaya yang sudah coba dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut, mulai dari penanaman nilai-nilai moral di lingkup pendidikan formal, hingga media massa dan berbagai kampanye yang dilakukan. Hasilnya? Belum bisa dijustifikasi saat ini karena generasi penerus bangsa sementara digembleng untuk perbaikan moral kedepannya. Saya berharap masalah fundamental seperti ini ditanganni seintensif mungkin.

Beralih ke wilayah mental. Ada yang mengatakan bahwa bagaimanapun moralnya diperbaiki kalau mentalnya memang mental penjahat, moral bisa apa? Pendapat ini memang tidak bisa disalahkan. Apalagi, jika lingkungan di pemerintahan memang sudah ber aura korup, mau tidak mau kalau imannya lemah, akan terjerumus juga.
Satu hal mengenai bangsa Indonesia sehubungan dengan mental. Bangsa Indonesia itu JUDGEMENTAL . termasuk saya sendiri. Kita terkesan hanya melihat satu sisi tanpa mempertimbangkan sisi yang lain. Mentang-mentang kita eksis dengan suasana mayoritas lantas menghakimi identitas mereka yang minoritas. Kita terlalu mudah melihat sisi buruk. Hanya karena anggota dalam suatu kelompok berubah wujud menjadi anjing lantas menganjingkan anggota kelompok yang lain. Kelinci yang lucupun akan menjadi buas jika diperlakukan seperti itu. Judgemental yang keterlaluan akan menimbulkan konflik. Kita hidup di negara yang serba beragam dan kita sering lupa akan hal itu hingga mudah terpecah oleh hal-hal kecil. Jangan sampai keberagaman yang selalu kita bangga-banggakan selama ini menjadi jurang pemisah di antara kita dan Bhineka Tunggal Ika hanya dijadikan hiasan dinding semata. Cobalah belajar untuk memaknai sesuatu bukan hanya pada satu sisi, bukan pada apa yang dikatakan orang lain. Karena tidak semua orang pandai memaknai emosi.

Sudah hampir satu lembar saya mengangkat sisi gelap satu kata sembilan huruf yang saya cintai ini. Tapi rasanya masih banyak hal yang ingin saya ungkap. Memang, membahas permasalahan di Indonesia itu bagaikan menguras air laut. Tidak akan ada habisnya!. Saya punya 1001 alasan untuk membenci Indonesia, tapi entah mengapa, sedikitpun rasa benci itu tidak pernah muncul bahkan di lubuk hati yang terdalam. Mungkin karena sudah terlanjur cinta. Pertanyaan yang muncul kemudian “Kontribusi apa yang sudah saya lakukan untuk Indonesia?” coba tanamkan pertanyaan itu dalam benak kita bahkan hati kita msing-masing hingga kita menemukan jawabannya di kemudian hari.


Tiba-tiba saya ingat dengan perkataan Bung Karno “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri” Sebuah quote yang pas untuk menutup tulisan ini.
swarafun.deviantart.com

*Nb : tugas dari divisi Jurnalistik yang tidak kunjung dikumpulkan*
Read More

Kisah Negeriku

Aku bermuara dihempas lara
Hendak Kukabarkan kisah negeriku
Tentang Pemuda Pemudi bersimbah darah
Lalu terbujur kaku

Meski raga tak bernyawa
Mereka bangkit mewariskan jiwa
Memahat semangat pada nurani
Tekad terpatri di sanubari

Tapi kini, ibu pertiwi menangis
Dinistakan para pewaris
Nuraninya terpasung Nafsu
Akalnya terbius kuasa palsu

Aku tak ingin berkata tentang kasta
Tapi inilah Realita!
Kuat menindas, lemah ditindas
Di kaki tirani yang semakin buas

Aku bermuara di batas harap
Tak sedikitpun tekadku menguap
Akulah Sang jiwa muda
Di Negeriku, Akulah nahkoda.
--Teruntuk mereka di 20 Mei.. 108 tahun yang lalu--


Read More

Rabu, 23 Maret 2016

Wanua Latemmamala

Halo!
Selamat Hari Jadi Kota kelahiran!

Dengan luas wilayah kurang lebih 1.359,44 km2, sebuah kota berdiri tegak dihuni oleh kurang lebih 250.000 jiwa  penduduk. Kenapa saya bisa tahu? Karena tadi saya searching di google.

Hanya sebagian kecil rakyat Indonesia yang tinggal di sana. Orang-orang menyebutnya watansoppeng, Soppeng, bahkan ada yang menyebutnya dengan Oppeng (tidak usah bilang-bilang, jangan dibayangkan). Ada yang memberikan julukan Bumi Latemmamala, sesuai dengan sejarahnya. Ada juga yang menyebutnya Kota Kalong, sesuai dengan bau dari warganya. Bukan. Bukaan! Jadi, disebut Kota Kalong atau nama kerennya Gotham City, karena ada rentetan pohon asam yang berjejer di sepanjang jalan di tengah kota yang sejak 400 tahun yang lalu telah dihuni oleh sekelompok hewan nokturnal yang disebut Kelelawar. Unik, bukan?

Tidak ada yang tahu pasti penyebab mengapa koloni kelelawar ini memilih untuk bertengger disana, mungkin saja karena soppeng adalah kota yang aman dan damai atau dengan kata lain sepi. Jika diibaratkan seorang manusia, Soppeng masih seorang anak kecil, polos, buktinya ketika malam hari, tidak ada kehidupan disana. Jangan pernah berniat untuk menikmati lampu-lampu malam di soppeng, karena itu hanya akan menjadi angan-angan semata. Setelah jam 11 malam, Orang Soppeng tidak lagi berkeliaran di luar rumah. Kenapa? Karena mereka sudah bergegas untuk minum susu dan bobo cantik. Nggak Lah!. Jangan pernah juga mencari dua lampu merah di sana. Untuk saat ini, Soppeng masih termasuk sepi, itu juga yang menjadi penyebab kenapa saya selalu rindu. Dia tenang, ngangenin (tuh kan, baper).

Bukti lain yang memperkuat bahwa Soppeng itu aman adalah belum ada berita bahwa ada orang yang tenggelam di Laut Soppeng dan mungkin tidak akan pernah ada. Yang tidak setuju boleh cari laut sendiri.

Disini saya tidak ingin menceritakan tentang sejarah, karena saya tahu, bagaimanapun saya mencoba menjelaskan bagaimana sejarah Soppeng, saya yakin bahwa hanya sebagian kecil yang akan membaca sampai akhir, karena sebagian besar orang berpikir bahwa sejarah itu membosankan. Padahal tidak, sejarah itu mengingatkan tentang masa lalu, kasian orang yang susah move on. Maaf ya, wahai kaum yang susah move on. Oke, kembali ke topik. Intinya disini, salah satu sejarah Soppeng yaitu tentang kekeringan yang pernah terjadi dan dengan cerita yang panjang sebelumnya dimana yang saya pelajari di pelajaran mulok dengan susah payah membaca huruf lontarak, kekeringan tersbut bisa terselesaikan berkat adanya burung Cakkelle atau kakatua yang membawa beberapa pemuka-pemuka masyarakat kepada sang penyelamat yang di sebut To Manurung. Jadi, simbol resmi Kota Soppeng itu adalah Si Cakkelle’ atau Si Burung Kaka Tua ini. Bukan Si Kelelawar.

Berbicara tentang sejarah, Soppeng juga adalah salah satu Kota dengan Bangunan tua yang masih bertahan,  berdiri manis di puncak bukit , menyiratkan peninggalan kolonial dengan kenangan dari Sang Ratu, Villa Yuliana. Bangunan ini bergaya indies dengan ornamen bugis dipadukan dengan bangunan gaya eropa. Indah? Jelaas. Selain Villa Yuliana, ada juga bangunan tua yang terdapat di kompleks istana Datu Soppeng yaitu Bola Ridie, Salassae, dan Menhir Latammapole. Ada juga yang terletak 30 km dari Kota Watansoppeng, yaitu Rumah Adat Sao Mario, yang dekat dengan Permandian alam Lejja.

Meskipun tidak memiliki wilayah pantai, tapi Soppeng juga punya wilayah perairan, yaitu sebagian Danau Tempe. Dengan ketinggian rata-rata 200 m diatas permukaan laut, Soppeng dihiasi dengan daerah perbukitan kurang lebih 800km2. Ada banyak gunung-gunung yang menjulang tinggi di Soppeng, ada Gunung Conang yang sampai 1.463 m, Gunung Sewo 860 m, Gunung Lapancu 850 m, Gunung Bulu Dua 800 m, dan Gunung Paowangeng 760 m. Bagaimana tripper? Keren? Of Course!

Tidak pernah terbesit dalam benak saya ingin lahir di kota lain selain Bumi Latemmamala ini. Jika ingin dilahirkan berapakali lagi pun di masa depan, saya tetap ingin lahir sebagai orang Soppeng. Sebuah kota tua berumur 755 tahun yang masih memegang teguh adat, merawat warisan masa lalu, tanpa tegrilas zaman.

Berbahagialah kawan, ada kota semanis Watansoppeng, tidak perlu kaya untuk tinggal di kota ini. Tidak ada orang kelaparan di tempat ini. Ramah tamah penduduknya menyiratkan kedamaian. Merantaulah, kawan. Tapi ingatlah, ada ritme kehidupan menyenangkan yang menantimu untuk kembali. Disini, di Bumi Latemmamala.

Ade’na Yassisoppengi
Malebbi’ sipakkatau
Tana Ancajingekku


Wanua latemmamala...
Read More

Kamis, 17 Maret 2016

Sutradara Imajinasi

Kepada mimpi, yang malam tadi hadir tanpa permisi kepada sang pemilik jiwa.
Apa yang kau bawa? Mengapa hanya potongan kenangan?
Kau mementaskan adegan semaumu.
Memutar kembali potongan-potongan yang susah payah kuhapus.

Aku menyukainya!
Setiap adegan yang kau mainkan.
Dia yang untuk hanya sekedar bertemu dengannya hanyalah sebuah kemustahilan.
Kau menghadirkannya!

Tidak ada yang berubah dengan senyumnya.
Rasa yang hadir tidak melebur sedikitpun.
Aku hanyut oleh sorot matanya.
Kala Ia bercerita tentang masa depan.

Kepada mimpi, sang sutradara imajinasi.
Haruskah kuucapkan terimakasih?
Ketika aku terbangun dan menyadari tidak ada sosoknya disini.
Aku tersenyum dan memakimu seketika.

Read More

Selasa, 26 Januari 2016

Selembar Dua Ribu

Halo!

Postingan kali ini lagi bener. Nggak ngaco kayak postingan sebelum-sebelumnya.


#lagibener

Masyarakat pada umumnya di era modern ini disibukkan dengan rutinitas sehari-hari mereka. Mereka berlomba-lomba mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Orang-orang sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Orang yang bekerja di kantor dengan dokumennya, guru dengan siswanya, dokter dengan pasiennya, koki dengan masakannya, nelayan dengan ikannya, pengamen dengan gitarnya, tukang parkir dengan selembar dua ribu rupiahnya, dan lain-lain. Mereka seakan-akan hidup bersanding dengan dunianya sendiri tanpa mau berbagi dunia dengan orang lain. Seperti sepenggal kisah berikut.

Seorang wanita memacu motornya dengan kencang, ia menuju ke sebuah toko kecil untuk membeli lilin untuk kue ulang tahun putrinya. Dengan terburu-buru, ia memarkirkan motornya berjejeran dengan dua motor lainnya. Ia hanya meletakkan helmnya pada spion motornya dan mengambil kunci motornya lalu berlari masuk ke toko tanpa sempat berbalik melihat posisi motornya.

Selang beberapa menit, ia keluar dari toko dan menaiki motornya dengan terburu-buru ingin segera kembali ke pesta ulang tahun anaknya. Belum sempat ia memutar kunci motornya, dua orang anak kecil berlari menghampirinya. “parkirnya bu” anak kecil itu mengulurkan telapak tangannya. Wanita itu mendengus dan berkata dengan keras “saya cuma sebentar malah minta uang, enak banget kamu. Saya buru-buru. Nggak ada uang kecil”. Kedua anak kecil tadi pergi dengan wajah lesu.

Setelah sampai di rumahnya, putrinya yang baru berumur 4 tahun menunggunya di depan pintu dan berkata “ma, kue ulang tahunnya gede banget, aku nggak bisa habisin. Kita bawa ke anak-anak yang nggak pernah makan kue tar yah bu”. Sang ibu heran dan berkata “loh, kenapa? Kan sayang, kuenya enak loh nak. Kalau belum bisa habisin, kan bisa di simpan di lemari es dulu”. Putrinya menghampiri dan memeluk ibunya seraya berkata “mah, kuenya memang enak, tapi lebih enak kalau dimakan orang yang nggak pernah makan kue enak itu. Kalau mereka senang, adek lebih senang lagi mah, kan mama yang ngajarin adek”.

Wanita itu terdiam, merasa terpukul dengan perkataan polos anaknya, benar sekali bahwa ia yang selama ini mengajarkan kepada anaknya tentang indahnya berbagi, bersedekah, dan tolong menolong. Ia tiba-tiba teringat pada dua orang anak kecil tukang parkir yang tadi di bentaknya. Begitu mudah ia menasehati anaknya, tetapi ia bahkan tidak memiliki ketulusan untuk menerapkannya.

Yang bisa dipetik dari kisah di atas adalah bahwa di saat sekarang ini sangat banyak orang yang ‘terlihat’ peduli dengan orang lain. Mereka mengupdate status tentang kemanusiaan, kata-kata bijak tentang tolong menolong. Tetapi untuk hanya sekedar memberi selembar dua ribu rupiah kepada tukang parkir saja ia harus membentak terlebih dahulu. Orang-orang hanya pandai berteori tanpa ada niat untuk melakukannya. Mereka mengejar ketenaran di dunia maya, tetapi gengsi melakukannya di dunia nyata.

Tidak ada salahnya menyisihkan sedikit saja bagian kita untuk mereka yang membutuhkan. Mereka juga punya bagian, hanya saja tidak seberuntung orang lain. Mereka perlu merendahkan diri agar mendapatkan bagiannya. Lagipula, tidak ada orang yang menjadi miskin karena berbagi. Tidak perlu banyak, asalkan ada ketulusan di dalamnya. Tidak perlu memberikan ratusan ribu. Mulailah berbagi meskipun hanya dengan selembar dua ribu rupiah yang berisi ketulusan.
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

Sample Text

Followers

Followers

Recent Posts

Recent Comments

Introduction

About

Pages

Blogger templates