with Yuliana Firman

Senin, 16 November 2015

Mahasiswa Dilarang Baper

Mahasiswa dilarang Baper
Halo!
“Saya orang Sulawesi, tapi nggak papa kan kalau nulis pakai gue-elo? Soalnya kalau pakai aku-kamu itu terkesan ngajakin PDKT.” Yaelah Baper deh gue.

Gue  adalah salah satu dari sekian miliar orang di dunia yang masih menggunakan facebook. Nah, dari facebook inilah gue pertama kali menemukan kata-kata mistis yang di sebut “Baper”. Angkat tangan lo jika memiliki pengalaman serupa dengan gue. Oke, turunkan. Jadi kita ketahui bersama bahwa baper itu sendiri adalah singkatan dari Bawa Perasaan. Mengapa baper gue kaitkan dengan mahasiswa? Ada begitu banyak hal di kehidupan mahasiswa yang erat kaitannya dengan baper. Saran gue untuk kalian para mahasiswa, jangan budayakan baper dalam kehidupan kalian.
Contoh pertama gue kaitkan dengan Penerimaan Mahasiswa Baru atau yang biasanya disebut dengan PMB. Bayangkan ketika dalam PMB itu, tiba giliran rektor untuk menyampaikan kata sambutan atau pidato, lalu lo mulai mendengarkan dengan kepala manggut-manggut terlihat sangat mengerti dengan sambutan dari rektor padahal sebenarnya epilepsi lo lagi kambuh. Setelah mendengarkan kata-kata sambutan dari rektor, di akhir sambutannya beliau berkata “Marilah kita bersama-sama bekerja sama untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik” kemudian tiba-tiba lo bertanya “masa depan siapa, pak?” dan beliau menjawab dengan lantang “masa depan kita bersama” kemudian lo berkata tidak kalah lantang “kita? Emang bapak rela ninggalin istri bapak demi saya?” selanjutnya akan terjadi tawuran antar mahasiswa dengan keluarga dari istri rektor. Bayangkan, kalau tawuran sehebat itu terjadi hanya gara-gara lo yang baper dengan kata-kata sambutan dari rektor. Nggak etis banget, kan?
Contoh kedua gue kaitkan dengan senior. Mahasiswi yang baca ini pasti langsung ingat sama senior cowok idola mereka. Udah ngelamunnya woy! Hapus tuh iler. Lanjutin baca tulisan gue!. Bayangkan ketika senior lo tiba-tiba nyamperin lo sambil bawa sekarung stiker dan berkata “dek, kamu suka koleksi stiker ya?” terus lo jawab dengan centil “iyya kak. Kok tau?” kemudian senior lo berkata “yaudah beli nih stiker. Murah kok, dua puluh ribu satu, jadi kalau beli dua harganya cuma empat puluh ribu.” Kemudian lo menjawab sambil guling-guling “aaaaaa.. kakak so swiit banget” kemudian lo pesan tiga karung stiker sama senior lo. Akhirnya, lo menjadikan stiker itu sebagai makanan pokok pengganti nasi. Tragis, bukan?
Contoh ketiga gue kaitkan dengan dosen. Nah, berbicara tentang dosen, gue jadi ingat dengan mahasiwa yang pergi pagi pulang pagi. Iya, jadi mahasiswa yang sejenis ini pergi pagi-pagi ke kampus, pas sampai di kelas dan baru saja pantatnya ingin menyentuh tempat duduk, tiba-tiba ada pemberitahuan dari ketua tingkat, katanya dosen tidak jadi masuk karena kucing jantannya melahirkan. Akhirnya mahasiswa tadi tidak jadi mendaratkan pantatnya di tempat duduknya dan langsung pulang lagi. Jadi mahasiswa seperti inilah yang disebut mahasiswa yang pergi pagi pulang pagi. Iya, perginya pagi pulangnya juga pagi. Bagi mahasiswa yang pernah mengalami hal ini jangan pernah baper sama dosen. Apalagi kalau lo baper sampai ke rumah dosen lo dan menculik kucing jantan yang baru melahirkan tadi dan menjodohkannya dengan kucing peliharaan lo. Jangan, jangan pernah! Itu menyakitkan bagi kaum kucing. Lo tega hah? Tega?
Oke, jadi intinya, buat kalian para mahasiswa, saran gue jangan pernah membudayakan baper dalam kehidupan sehari-hari kalian. Baper itu nggak ada untungnya! Kita para mahasiswa sedang dalam tingkatan pendidikan tinggi. Malu sama anak-anak SMA, cabe-cabean, terong-terongan, mereka wajar masih suka baper. Dikit- dikit baper, dikit-dikit update status baper. Jangan pernah mengaitkan perasaan nggak jelas itu di masa depan lo. Perbanyaklah berpikir kritis, berpikir lebih inovatif, jangan menyia-nyiakan pengorbanan nyokap bokap lo yang selama hidupnya bekerja keras dengan penuh harap agar bisa melihat anak-anaknya sukses. Kesampingkan baper, berpikir ke depan. Perasaan lo itu harusnya lo tujukan untuk orang tua lo.
Mohon maaf kalau tulisan saya ini kurang dapat dimengerti. Berhubung saya juga mahasiswa yang tidak luput dari kata baper. Hanya orang-orang yang suka baper yang mengerti dengan postingan saya kali ini. 
Kalau Baper yang Bawa Perubahan itu yang harus dilaksanakan.
Hidup Baper! Eh, salah. Maksudnya :
Hidup Mahasiswa!
Read More

Senin, 09 November 2015

Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar Kampus VI UPP PGSD BONE

Halo!
Saya seorang Mahasiswa.
Apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika mendengar tentang Mahasiswa? Ya! Perguruan Tinggi. Lengkapnya saya seorang mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Sulawesi Selatan, Universitas Negeri Makassar.
Ada yang pernah dengar tentang Universitas yang satu ini? bagi orang Sulsel, Universitas ini pasti sudah tidak asing lagi di telinga mereka. Yang asing adalah ketika saya menyebutkan tentang Kampus VI UNM. Bingung, kan? apa itu kampus VI? Jangan, jangan cari di KBBI, tidak akan ada jawabannya disana. Daripada pusing cari kesana kemari, lebih baik dengarkan penjelasan saya. Lebih tepatnya tulisan saya ini, atau bisa juga di share lebih dulu. Eh, tidak, baca saja terlebih dahulu. Maaf maaf saya khilaf.

Sekarang serius. Jadi, Kampus UNM terbagi di beberapa wilayah dan dibagi per Fakultas, Fakultas Ilmu Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial, dan Fakultas Ilmu Psikologi berada di Kampuns Gunung Sari, iya, yang ada menara Phinisinya yang tinggi menjulang itu. Fakultas Teknik, Fakultas Bahasa, Fakultas MIPA, dan Fakultas Seni berada di Kampus Parangtambung. Fakultas Ilmu Olahraga terletak di Banta-bantaeng. Terakhir yang paling spesial, Fakultas ciri khas UNM jeng jeng... Fakultas Ilmu Pendidikan yang terletak di Kampus Tidung. Nah, Fakultas Ilmu Pendidikan ini khusus untuk Prodi PGSD, tahu kan apa kepanjangan dari PGSD? Betul sekali Pendidikan Guru Sekolah Dasar kampusnya terbagi tiga, PGSD di Tidung sebagai Kampus IV, di Pare-Pare sebagai Kampus V dan di Watampone sebagai Kampus VI and I stay on there, Kampus VI.
Dokumentasi Pribadi

Kami berada di luar Makassar, tetapi kami tetap UNM. Kami sama saja dengan Kampus IV yang berada di Tidung. Kami belajar hal yang sama, Mata Kuliah yang sama, dan akan mendapatkan gelar yang sama di wisuda kelak. Aamiin.
Saya sangat menegaskan bahwa kami Mahasiswa PGSD Kampus VI sama dengan kampus yang lain bukan tanpa alasan. Selama ini, kami sering dipandang sebelah mata, sering dipertanyakan. Ketika orang-orang di sekitar saya bertanya “kuliah dimana?” saya jawab dengan lantang “UNM”, kemudian pertanyaan selanjutnya yang sangat saya tidak suka “kalau di Makassar tinggal dimana?” akan saya jawab dengan “saya tidak tinggal di Makassar, saya di Bone” selanjutnya orang itu akan bertanya lagi dengan muka minta ditabok “kenapa di Bone? Kan kuliahnya di UNM” selanjutnya saya akan mengambil parang kakek buyut saya, sebuah kardus indomie goreng, dan memutilasi orang itu. Satu minggu kemudian, saya masuk di surat kabar dengan judul Seorang Mahasiswa UNM yang tidak tinggal di Makassar menjadi Pelaku Mutilasi. Nggak Lah! Selanjutnya saya akan menjelaskan dengan panjang lebar bahwa “Jadi saya tinggal di Bone karena saya kuliah di Bone. Iya nama PTNnya juga UNM. Jadi, kampus UNM itu bukan Cuma di Makassar ada juga di Bone, khusus untuk PGSD. 

Bukan Cuma di Bone saja, di Pare-pare juga ada. Di Bone ada gedungnya juga, ada dosennya, ada Mata Kuliahnya, ada Mahasiswanya,ada organisasinya, demonstrasi ada, ADA!. Semua ada! Nanti kalau di wisuda juga di Makassar. Sama saja dengan PGSD Makassar, hanya saja kami berada di wilayah yang berbeda.” kemudian orang tadi bertanya lagi “kamu di Makassar tinggal dimana?” kemudian rencana yang sempat saya batalkan tadi akhirnya saya laksanakan. Nggak Lah!!
Intinya, tolonglah wahai para orang-orang yang suka memandang sebelah mata kami, berhentilah dari kebiasaan buruk itu. Kami disini pergi untuk belajar, kami juga adalah mahasiswa. Atau haruskah saya membanggakan Kampus VI ini dengan mengungkit masalah IPK tertinggi atau bahkan IPK sempurna di wisuda se UNM? Ah, sudahlah. Kami tidak sesombong itu. Kami hanya berharap kedepannya tidak ada lagi pertanyaan mengenai mengapa di Bone, kenapa di Bone, dan pertanyaan-pertanyaan memuakkan lainnya.

Hidup Mahasiswa!
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

Sample Text

Followers

Followers

Recent Posts

Recent Comments

Introduction

About

Pages

Blogger templates