Mahasiswa dilarang
Baper
Halo!
“Saya orang Sulawesi,
tapi nggak papa kan kalau nulis pakai gue-elo? Soalnya kalau pakai aku-kamu itu
terkesan ngajakin PDKT.” Yaelah Baper
deh gue.
Gue adalah salah satu dari sekian miliar orang di dunia yang masih menggunakan facebook. Nah, dari facebook inilah gue pertama kali menemukan kata-kata mistis yang di sebut “Baper”. Angkat tangan lo jika memiliki pengalaman serupa dengan gue. Oke, turunkan. Jadi kita ketahui bersama bahwa baper itu sendiri adalah singkatan dari Bawa Perasaan. Mengapa baper gue kaitkan dengan mahasiswa? Ada begitu banyak hal di kehidupan mahasiswa yang erat kaitannya dengan baper. Saran gue untuk kalian para mahasiswa, jangan budayakan baper dalam kehidupan kalian.
Contoh pertama gue
kaitkan dengan Penerimaan Mahasiswa Baru atau yang biasanya disebut dengan PMB.
Bayangkan ketika dalam PMB itu, tiba giliran rektor untuk menyampaikan kata
sambutan atau pidato, lalu lo mulai mendengarkan dengan kepala manggut-manggut
terlihat sangat mengerti dengan sambutan dari rektor padahal sebenarnya
epilepsi lo lagi kambuh. Setelah mendengarkan kata-kata sambutan dari rektor,
di akhir sambutannya beliau berkata “Marilah kita bersama-sama bekerja sama untuk
mewujudkan masa depan yang lebih baik” kemudian tiba-tiba lo bertanya “masa
depan siapa, pak?” dan beliau menjawab dengan lantang “masa depan kita bersama”
kemudian lo berkata tidak kalah lantang “kita? Emang bapak rela ninggalin istri
bapak demi saya?” selanjutnya akan terjadi tawuran antar mahasiswa dengan
keluarga dari istri rektor. Bayangkan, kalau tawuran sehebat itu terjadi hanya
gara-gara lo yang baper dengan kata-kata sambutan dari rektor. Nggak etis
banget, kan?
Contoh kedua gue
kaitkan dengan senior. Mahasiswi yang baca ini pasti langsung ingat sama senior
cowok idola mereka. Udah ngelamunnya woy! Hapus tuh iler. Lanjutin baca tulisan
gue!. Bayangkan ketika senior lo tiba-tiba nyamperin lo sambil bawa sekarung
stiker dan berkata “dek, kamu suka koleksi stiker ya?” terus lo jawab dengan
centil “iyya kak. Kok tau?” kemudian senior lo berkata “yaudah beli nih stiker.
Murah kok, dua puluh ribu satu, jadi kalau beli dua harganya cuma empat puluh
ribu.” Kemudian lo menjawab sambil guling-guling “aaaaaa.. kakak so swiit
banget” kemudian lo pesan tiga karung stiker sama senior lo. Akhirnya, lo
menjadikan stiker itu sebagai makanan pokok pengganti nasi. Tragis, bukan?
Contoh ketiga gue
kaitkan dengan dosen. Nah, berbicara tentang dosen, gue jadi ingat dengan
mahasiwa yang pergi pagi pulang pagi. Iya, jadi mahasiswa yang sejenis ini
pergi pagi-pagi ke kampus, pas sampai di kelas dan baru saja pantatnya ingin
menyentuh tempat duduk, tiba-tiba ada pemberitahuan dari ketua tingkat, katanya
dosen tidak jadi masuk karena kucing jantannya melahirkan. Akhirnya mahasiswa
tadi tidak jadi mendaratkan pantatnya di tempat duduknya dan langsung pulang
lagi. Jadi mahasiswa seperti inilah yang disebut mahasiswa yang pergi pagi
pulang pagi. Iya, perginya pagi pulangnya juga pagi. Bagi mahasiswa yang pernah
mengalami hal ini jangan pernah baper sama dosen. Apalagi kalau lo baper sampai
ke rumah dosen lo dan menculik kucing jantan yang baru melahirkan tadi dan
menjodohkannya dengan kucing peliharaan lo. Jangan, jangan pernah! Itu menyakitkan
bagi kaum kucing. Lo tega hah? Tega?
Oke, jadi intinya, buat
kalian para mahasiswa, saran gue jangan pernah membudayakan baper dalam
kehidupan sehari-hari kalian. Baper itu nggak ada untungnya! Kita para
mahasiswa sedang dalam tingkatan pendidikan tinggi. Malu sama anak-anak SMA,
cabe-cabean, terong-terongan, mereka wajar masih suka baper. Dikit- dikit
baper, dikit-dikit update status baper. Jangan pernah mengaitkan perasaan nggak
jelas itu di masa depan lo. Perbanyaklah berpikir kritis, berpikir lebih
inovatif, jangan menyia-nyiakan pengorbanan nyokap bokap lo yang selama
hidupnya bekerja keras dengan penuh harap agar bisa melihat anak-anaknya
sukses. Kesampingkan baper, berpikir ke depan. Perasaan lo itu harusnya lo
tujukan untuk orang tua lo.
Mohon maaf kalau
tulisan saya ini kurang dapat dimengerti. Berhubung saya juga mahasiswa yang
tidak luput dari kata baper. Hanya orang-orang yang suka baper yang mengerti
dengan postingan saya kali ini.
Kalau Baper yang Bawa Perubahan itu yang harus dilaksanakan.
Kalau Baper yang Bawa Perubahan itu yang harus dilaksanakan.
Hidup Baper! Eh, salah.
Maksudnya :
